Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi menurut Gunarsa (2011) dapat dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana yakni “psyche” yang artinya jelas yaitu “mind” atau sederhananya: jiwa dan “therapy” dari bahasa yunani yang berarti merawat atau mengasuh, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang.Perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian. Sebagaimana diketahui, bahwa perawatan terhadap penderita tersebut, juga bisa dilakukan dengan pendekatan dari bidang kedokteran, antara lain dengan farmakoterapi.

Menurut Watson & Morse (dalam Gunarsa, 2011), psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.

Perumusan lain diberikan oleh Corsini (dalam Gunarsa, 2011) yang mengatakan bahwa psikoterapi sulit dirumuskan secara tepat. Corsini merumuskan psikoterapi sebagai berikut: Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan mempebaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari dua belah pihak karena ketidak mampuan atau malfungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif(kelainan pada fungsi berpikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.

Tujuan Psikoterapi

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menuru Ivey, et al (dalam Gunarsa, 2011) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (dalam Gunarsa, 2011) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

 

Unsur-unsur Psikoterapi

Dalam psikoterapi, unsur-unsur aktif dalam pekerjaan reparasi emosional ini meliputi hubungan baik dan rasa percaya antara klien dan terapis yang bergerak bersama dengan baik serta terbukanya aliran emosi yang lebih bebas antara klien dengan terapis.

Masserman (dalam Guze & Richeimer, 2004) telah melaporkan tujuh parameter pengaruh dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk:

  1. Peran sosial (“martabat”) psikoterapis,
  2. Hubungan (persekutuan terapiutik),
  3. Hak,
  4. Retrospeksi,
  5. Re-edukasi,
  6. Rehabilitasi,
  7. Resosialisasi, dan rekapitulasi.

Unsur-unsur psikoterapiutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi. Ciri-ciri ini dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapiutik, keadaan mental, dan kebutuhan pasien.

Sumber:

Gunarsa, Singgih D. (2011). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Guze, Bary & Richeimer, Steven. (2004). Buku saku psikiatri residen bagian psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.