Archive for March, 2015


ARTIKEL 3: PSIKOTERAPI

Penjelasan & Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

Menurut Wolberg (dalam Singgih, 2011) psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan (atau perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seseorang yang terlatih dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simptom dan mencegah agar simptom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.

Sedangkan konseling menurut Wolberg konseling berhubungan dengan tujuan untuk memberikan suport dan mendidik kembali (supportive, re-education), sedangkan pada psikoterapi berhubungan dengan tujuan merekonstruksi kepribadian seseorang (reconstructive).

Selain itu pada konseling, seorang konselor menghadapi klien yang normal, sebaliknya pada psikoterapi menghadapi klien atau pasien yang mengalami neurosis atau psikosis.

Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone dan Patterson (dalam Singgih, 2011) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph adalah sebagai berikut:

Konseling :

  1. Klien
  2. Gangguan yang kurang serius
  3. Masalah jabatan, pendidikan
  4. Berhubungan dengan pencegahan
  5. Lingkungan pendidikan dan non medis
  6. Berhubungan dengan kesadaran
  7. Metode pendidikan

Psikoterapi :

  1. Pasien
  2. Gangguan yang serius
  3. Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
  4. Berhubungan dengan penyembuhan
  5. Lingkungan medis
  6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
  7. Metode penyembuhan

Penjelasan terhadap Mental Illnes (biological, psychological, sociological, dan philosophic)

Menurut J.P Chaplin (2006) ada beberapa penjelasan psikoterapi terhadap mental illnes yaitu:

  1. Biological: Meliputi kedaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalah gunaan zat.
  2. Psychological: Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stress yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial ketidak mampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
  3. Sociological: Meliputi kesukaran pada sistem dukunan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengeruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakang kondisi sosio budaya tertentu.
  4. Philosopic: Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya.

Penjelasan dari bentuk-bentuk Terapi (supportive, reeducative, dan recronstructive)

Berdasarkan tujuan dan pendekatan metodis, Wolberg membagi perawatan psikoterapi menjadi tiga tipe yaitu:

  1. Penyembuhan supportif (supportive theraphy) merupakan perawatan dalam psikoterapi yang mempunyai tujuan untuk:
  2. Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
  3. Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau kepribadian
  4. Pengembalian pada penyesuaian diri yang seimbang
  5. Penyembuhan redukatif (re-educative theraphy) suatu metode penyembuhan yang bertujuan untuk mengusahakan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup, dan untuk menghidupkan kembali potensi.
  6. Penyembuhan rekronstuktif (recronstuctive theraphy) penyembuhan rekronstuktif mempunyai tujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan untuk perluasan pertumbuhan kepribadian dengan mengembangkan potensi.

 

Sumber:

Chaplin, J.P. (2006). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Gunarsa, Singgih D. (2011). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Corey, Gerald. (2009). Teori konseling dan psikoterapi. Jakarta: Refika Aditama

Advertisements

ARTIKEL 2: PSIKOTERAPI

Perbedaan antara Psikoterapi & Konseling

Menurut Mappiare (2008), perbedaan antara psikoterapi dan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda lingkup pengertian antara keduanya. istilah “psikoterapi” mengandung arti ganda. Pada satu segi, ia menunjuk pada sesuatu yang jelas, yaitu satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada  lain segi, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah-satu bentuk psikoterapi.
  2. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan, pendidikan, pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memfokus pada konseren atau masalah penyembuhan, penyesuaian, pengobatan.
  3. Konseling dijalankan atas dasar (dijiwai oleh) falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi; konseling dan psikoterapi berbeda tujuan dan cara mencapai tujuan masing-masing.

Menurut Sholeh (2008), perbedaan antara psikoterapi dan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Dilihat dari ruang lingkup; konseling merupakan bagian dari program bimbingan konseling sedangkan psikoterapi ruang lingkupnya berada di luar bimbingan.
  2. Dilihat dari kedalaman; konseling merupakan pencanaan yang rasional, pemecahan masalah berhubungan dengan pemahaman diri dan lingkungan sedangkan psikoterapi memberikan perubahan mendasar dari kepribadian.
  3. Dilihat dari subyek atau sasaran; pada konseling subjeknya adalah individu yang normal dan lebih menekankan individu atau kelompok kecil sedangkan pada psikoterapi subjeknya adalah yang mengalami disintegrasi kepribadian dan lebih mengutamakan individu.
  4. Dilihat dari Orientasi atau pendekatan; konseling lebih menekankan kesinian dan kekinian sedangkan psikoterapi lebih menekankan masa lampau, simbolik dan mengaktifkan kembali alam ketidaksadaran.
  5. Dilihat dari setting; tempat yang dibutuhkan untuk melakukan konseling itu bisa di sekolah, universitas, lembaga layanan masyarakat, organisasi kemasyarakatan sedangkan psikoterapi setting atau tempatnya di klinik, rumah sakit dan praktik pribadi.
  6. Dilihat dari waktu; waktu yang diperlukan untuk konseling relaif terbatas sedangkan psikoterapi waktunya relatif lama (berhari-hari, minggu, bulan atau mungkin tahunan).
  7. Dilihat dari tujuan; konseling bertujuan untuk mengatasi tugas-tugas perkembangan sedangkan psikoterapi bertujuan untuk mengatasi konflik-konflik dalam diri seseorang.

 

Pendekatan terhadap Mental Illness

Menurut J.P. Chaplin (2006) ada beberapa pendekatan psikoterapi terhadap mental illness, diantaranya:

  1. Biological, meliputi keadaan mental organik, penyakit efektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
  2. Psychological, meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketikmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
  3. Sosiological, meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatangbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
  4. Philosophic, meliputi kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghargai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga ada istilah keharusan atau pemaksaan.

Bentuk Utama Terapi

Psikoterapi menurut Phares (dalam Slamet, 2008) dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yakni menurut taraf kedalamannya, dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan psikoterapi suportif, psikoterapi re-educative, dan psikoterapi reconstruktive.

  1. Terapi Supportive

Tujuannya memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis, dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar. Alasan penghindaran karena kalau di bongkar ketidaksadarannya, klien ini kemungkinan akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya. Contohnya mengatasi trauma kekerasan dengan tujuan merubah prilaku yang biasanya dilakukan.

  1. Psikoterapi Re-educative

Psikoterapi reeducative bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Di sini terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan klien, mendidik kembali, agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis di sini tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran saja, namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran. Psikoterapi jenis redukatif ini biasanya terjadi dalam konseling.

  1. Reconstructive

Bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien atau klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses tidak sadar, dan seterusnya. Psikoterapi jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya langsung intensif dalam waktu yang sangat lama. Pendekatan psikoanalisis dimaksudkan menimbulkan pemahaman pada klien tentang masalah-masalahnya, kemudian mendobrak untuk melakukan pemahaman selanjutnya dan meningkatkan pengendalian ego atas desakan id dan superego.

Sumber:

Mappiare, Andi. 2008. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta:  PT Raja Grafindo Persada.

Sholeh, Moh. 2008. Bertobat Sambil Berobat. Jakarta: PT Mizan Publika

Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Slamet, S & Sumarmo M. 2003. Pengantar psikologi klinis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi menurut Gunarsa (2011) dapat dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana yakni “psyche” yang artinya jelas yaitu “mind” atau sederhananya: jiwa dan “therapy” dari bahasa yunani yang berarti merawat atau mengasuh, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang.Perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian. Sebagaimana diketahui, bahwa perawatan terhadap penderita tersebut, juga bisa dilakukan dengan pendekatan dari bidang kedokteran, antara lain dengan farmakoterapi.

Menurut Watson & Morse (dalam Gunarsa, 2011), psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.

Perumusan lain diberikan oleh Corsini (dalam Gunarsa, 2011) yang mengatakan bahwa psikoterapi sulit dirumuskan secara tepat. Corsini merumuskan psikoterapi sebagai berikut: Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan mempebaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari dua belah pihak karena ketidak mampuan atau malfungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif(kelainan pada fungsi berpikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidak tepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.

Tujuan Psikoterapi

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menuru Ivey, et al (dalam Gunarsa, 2011) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (dalam Gunarsa, 2011) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

 

Unsur-unsur Psikoterapi

Dalam psikoterapi, unsur-unsur aktif dalam pekerjaan reparasi emosional ini meliputi hubungan baik dan rasa percaya antara klien dan terapis yang bergerak bersama dengan baik serta terbukanya aliran emosi yang lebih bebas antara klien dengan terapis.

Masserman (dalam Guze & Richeimer, 2004) telah melaporkan tujuh parameter pengaruh dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk:

  1. Peran sosial (“martabat”) psikoterapis,
  2. Hubungan (persekutuan terapiutik),
  3. Hak,
  4. Retrospeksi,
  5. Re-edukasi,
  6. Rehabilitasi,
  7. Resosialisasi, dan rekapitulasi.

Unsur-unsur psikoterapiutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi. Ciri-ciri ini dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapiutik, keadaan mental, dan kebutuhan pasien.

Sumber:

Gunarsa, Singgih D. (2011). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Guze, Bary & Richeimer, Steven. (2004). Buku saku psikiatri residen bagian psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.