TUGAS KESEHATAN MENTAL

Pradipta Windaru.

2PA03 / 15512682.

Saya mewawancarai sepasangan suami istri yang telah memiliki usia pernikahan lebih dari 20 tahun berjalan. Sebut saja Bapak Bantal dan Ibu Guling. Mereka mengawali pernikahan disaat mereka telah berusia 27 tahun, pernikahan tersebut diselenggarakan pada tahun 1993.

Awal mula mereka bertemu adalah dengan dikenalkan oleh seorang teman mereka yang ternyata ia adalah anak dari pemilik kos-kosan yang disinggahi oleh Ibu Guling yang secara kebetulan sedang mengembangkan studinya di salah satu universitas ternama di kota Tanggo-land. Perkenalan ini terjadi ketika anak Ibu kos ini sedang merayakan hari kelulusannya dari sebuah akademi instasi kenegaraan.

Pertama berkenalan Ibu Guling tidak berpikir apa-apa dan sama sekali tidak tertarik dikarenakan Bapak Bantal berpenampilan tidak menarik bagi Ibu Guling, keadaan saat itu Bapak Bantal masih kusam, geseng alias hitam dan masih plontos-plontos kepalanya, dan penampilannya terlihat sama semua dengan teman-temannya yang baru saja lulus dari akademi tersebut, tutur Ibu Guling.

Setelah beberapa bulan berkenalan, Bapak Bantal terus berusaha mendekati Ibu Guling untuk meyakinakan bahwa dialah yang dicari Ibu Guling selama ini. Selain Itu Bapak Bantal ini memiliki firasat dan cara-cara yang baik dalam menentukan momen pertemuannya dengan Ibu Guling, salah satu ceritanya seperti ini….

Ketika itu Ibu Guling sedang bersantai di dalam kamar kosannya, tiba-tiba ada temannya yang memberi tahukan bahwa ada yang mencarinya, karena Ibu Guling mengetahui bahwa itu adalah seseorang yang selalu mengejar-ngejarnya maka ia pun berusaha menghindar agar tidak menemui orang tersebut karena ia tidak menyukainya, akan tetapi karena adanya kesalahan dari teman satu kosnya maka ia harus menemui orang tersebut. Tidak seberapa lama lalu sang Bapak Bantal tiba-tiba saja muncul di depan kosan Ibu Guling tersebut, sontak hal itu membuat Ibu Guling terkejut. Langsung saja Bapak Bantal menghampiri Ibu Guling dan berkata ,“Tolong pinjamkan handuk dan sikat gigi untuk saya ya…”

Lalu hal itu pun membuat penggemar Ibu Guling pun pupus, karena ia mengira bahwa Bpak Bantal merupakan pacar atau pasangan dari Ibu Guling. Sesekali Bapak Bantal juga mengajak pergi Ibu Guling ke perpustakaan (ya kata Bapak Bantal ini juga termasuk salah satu cara jitu mengajak seseorang wanita keluar berkencan), selagi Ibu Guling juga sedang ada perlu di perpustakaan maka ia tidak menolak ajakan Bapak Bantal.

Seiring perjalannya waktu mereka pun telah menjalani sebuah hubungan sebagai teman khusus. Setelah keduanya lulus dan telah mendapatkan gelar S1, mereka berfokus untuk mencari pekerjaan dahulu sebelum melakukan langkah-langkah selanjutnya yang lebih serius. Setelah beberapa tahun berlalu dan mereka mendapatkan modal yang cukup khususnya Bapak Bantal sendiri, lalu Bapak Bantal pun melamar Ibu Guling.

Akhirnya merekapun menikah tidak sampai setahun pernikahan, mereka pun telah dikaruniai anak laki-laki pertama. Enam tahun pernikahan hadirlah anak kedua yaitu seorang anak perempuan dan setelah sebelas tahun pernikahannya pun mereka masih diberikan bonus karunia yaitu seorang anak perempuan.

Setelah mendengar sedikit cerita dari mereka saya menjadi penasaran dengan keharmonisan rumah tangga ini. Mereka memberitahu saya beberapa tipsnya adalah dengan mereka saling mengalahkan ego masing-masing, mencoba saling mengerti dan membantu jika salah satu ada kesibukan, panjang sabar dalam membina suatu hubungan terutama dalam pernikahan dan berpikir kedepannya bukan untuk sekarang tapi untuk masa depan apa saja yang harus dipersiapkan.

Kurang lebih telah 20 tahun masa pernikahan telah mereka jalani, mereka tidak pernah bertengkar dalam situasi apapun. Karena jika terjadi pertengkaran pasangan ini malu dengan anak-anaknya. Mereka juga selalu berusaha menjadi yang terbaik dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, maka dari itu mereka juga sangat dekat dengan anak-anaknya. Selalu ada canda tawa di setiap saat mereka berkumpul, meski pun mereka semua telah memiliki kesibukan masing-masing mereka pun selalu menyempatkan waktu untuk dihabiskan bersama dengan anak-anaknya.

Bapak Bantal dan Ibu Guling merupakan orang tua yang bekerja keras, keduanya terus berkerja dan berkarya di bidangnya. Seiring berjalannya waktu Bapak Bantal sering melakukan dinas keluar kota atau mengerjakan suatu proyek dari kantor yang diharuskan keluar kota. Ketika Bapak Bantal dinas keluar kota terkadang anak-anak serta istrinya diajak untuk ikut dengannya keluar kota dan menghabiskan waktu liburan anak-anaknya. Disela sibuknya pekerjaan mereka tetap saling berkomunikasi satu sama lain dan tetap menyempatkan waktu untuk berlibur bersama.

Walaupun si Bapak Bantal tipe orang sedikit cuek terhadap lingkungan, tetapi secara diam-diam ia tetap melengkapi/ memerhatikan dan menjaga keharmonisan rumah tangga ini. Karena untuk mereka pernikahan bersifat abadi hingga maut memisahkan mereka. Kepedulian adalah kunci dalam keharmonisan keluarga ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan dari hasil wawancara saya dengan Bapak Bantal dan Ibu Guling semoga dapat membantu dalam membina hubungan dengan pasangan anda.