Greenpeace Desak Pemerintah Batalkan Rencana Bangun PLTU

Nurul Qomariyah – detikfinance

Selasa, 19/10/2010 11:43 WIB

 

Jakarta – LSM Lingkungan internasional, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia membatalkan rencana untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bertenaga batubara. Greenpeace minta pemerintah mulai membangun masa depan yang ditenagai energi bersih dengan sumber-sumber energi terbarukan.

Desakan itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran laporan “Batubara mematikan: Biaya tinggi untuk batubara murah, bagaimana rakyat Indonesia membayar mahal untuk bahanbakar terkotor di dunia.”

Bersamaan dengan peluncuran laporan tersebut, para nelayan dari desa Waruwudur bersama dengan para aktivis Greenpeace melumuri diri mereka dengan debu ‘batubara’, membentangkan spanduk bertuliskan ‘batubara mematikan’ di atas perahu-perahu nelayan di depan PLTU bertenaga batubara di Cirebon.

“Polusi udara dari pembakaran batubara merusak mata pencaharian, menurunkan panen dan memberi dampak buruk pada tangkapan ikan dan secara perlahan membunuh masyarakat. Batubara adalah kutukan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tambang batubara dan di bawah bayang-bayang PLTU bertenaga batubara. Membakar batubara juga mempercepat perubahan iklim yang akan berdampak pada masyarakat seluruh negeri. Indonesia adalah termasuk negara yang paling rentan dan yang paling tidak siap dalam menghadapi perubahan iklim,” kata Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara dalam siaran persnya, Selasa (19/10/2010).

Greenpeace dalam laporan itu memuat tentang berbagai testimoni-testimoni bagaimana tambang batubara dan PLTU bertenaga batubara secara drastis mempengaruhi kesehatan dan sumber mata pencaharian masyarakat yang tinggal di dekatnya. Kisah-kisah ini memaparkan konsekuensi gelap dari ekspansi batubara – polusi beracun, hilangnya mata pencaharian, tergusurnya masyarakat, gangguan kesehatan pada sistem pernafasan dan sistem syaraf, hujan asam, polusi asap dan menurunnya panen pertanian – hal-hal yang diabaikan pemerintah dan industri untuk mendapatkan listrik ‘murah’.

Indonesia saat ini merupakan negara produsen batubara terbesar kelima di dunia dan merupakan eksportir  batubara kedua terbesar di dunia. Greenpeace menyebutkan, bukti-bukti kuat akibat serius dari penggunaan batubara jelas terlihat pada provinsi-provinsi penghasil batubara di Indonesia.

Greenpeace mencontohkan, penambangan batubara menyebabkan kerusakan parah pada kehidupan masyarakat adat dan di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda, di mana konsesi pertambangan batubara menguasai 70% wilayahnya. Tambang batubara dibuka persis di samping desa-desa dan limbah dari tambang yang terbengkalai tersebar di seluruh kota dengan danau-danau beracunnya.

Di Cirebon dan Cilacap, Greenpeace menemukan PLTU bertenaga batubara telah mengakibatkan masyarakat kehilangan mata pencahariannya, dan operasi PLTU selanjutnya akan membahayakan kesehatan mereka.

Saat ini, Indonesia berencana untuk meningkatkan pembangkitan listrik dari batubara sebesar 34,4% pada tahun 2025. Rencana ini adalah bagian dari usaha mengurangi penggunaan minyak bumi dan bergeser ke batubara dan gas, dengan target 10.000 MW dari batubara. Tapi melalui program awal yang seharusnya dicapai pada tahun 2009 dengan rampungnya 35 PLTU bertenaga batubara – 10 diantaranya di Pulau Jawa, dan selebihnya di pulau-pulau lain – kurang dari 60% dari target ini telah tercapai.

“Saat ini belum terlambat. Indonesia tidak membutuhkan batubara lagi, yang diperlukan adalah sebuah revolusi energi. Energi terbarukan dikombinasi dengan efisiensi energi dapat memangkas emisi CO2 sebagaimana komitmen Presiden Yudhoyono untuk mengurangi emisi gas rumahkaca,” jelas Arif.

“Indonesia memiliki sumberdaya surya, angin dan geotermal yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan energinya. Jika pemerintah Indonesia meninggalkan rencana energi kotornya, maka lebih dari 40% kebutuhan energi utama akan dapat dipenuhi melalui sumber-sumber terbarukan,” imbuhnya.

 

Sumber: http://finance.detik.com/read/2010/10/19/114306/1468661/4/greenpeace-desak-pemerintah-batalkan-rencana-bangun-pltu

 

Komentar: Menurut saya hal ini patut terjadi, karena dengan adanya PLTU ekosistem sekitarnya menjadi terganggu oleh akibat limbah dari adanya tambang batu bara serta limbah-limbah dari PLTU itu sediri, maka semestinya PLN menggunakan bahan bakar pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan atau dengan cara mengkondisikan dan menginfrastrukturi PLTU dengan baik agar tidak terjadi pencemaran terhadap lingkungan sekitar.